Pengembangan industri pariwisata bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya memiliki dampak terhadap gaya hidup terhadap masyarakatnya.
Industri pariwisata itu bersifat padat karya dan juga padat penghasilan, dimana peningkatan penjualan dari sektor ini tidak hanya menaikan penghasilan namun menciptakan lapangan kerja (yang terkait) lebih banyak.
Pada dasarnya dampak ekonomi dari industri pariwisata itu ada tiga,
- Dampak langsung (direct effects)
- Dampak tidak langsung (indirect effects)
Direct effects adalah dampak yang diakibatkan langsung dari pengeluaran wistawan/turis, contohnya keuntungan yang diperoleh oleh hotel-hotel tempat wisatawan tersebut menginap, keuntungan yang didapat dari warga lokal yang menjual jasa-jasa seperti penyewaan motor/mobil atau juga keuntungan yang diperoleh pemilik restaurant yang berlokasi di DTW (daerah tujuan wisata) tersebut.
Direct Effects. Perubahan produksi sehubugan dengan dampak langsung atas perubahan belanja wisatawan. Misalnya, kenaikan jumlah wisatawan yang menginap di hotel-hotel akan langsung menghasilkan kenaikan penjualan di sektor perhotelan. Tambahan Penjualan yang diterima hotel-hotel dan perubahan pembayaran yang dilakukan hotel-hotel untuk upah dan gaji karyawan, pajak dan kebutuhan barang dan jasa merupakan effek langsung (direct effect) dari belanja wisatawan itu.
Sedangkan Indirect effects dari industri pariwisata ini membawa dampak yang mencakup hampir semua sektor ekonomi, peningkatan jumlah wisatawan akan secara langsung meningkatkan penjualan industri perhotelan contohnya, peningkatan industri perhotelan akan meningkatkan perkembangan industri bantal, selimut, sprei, furniture, bahkan sampai industri air minum botol. Hal tersebut mutlak karena untuk menjalankan sebuah hotel, dibutuhkan furniture, linen hingga air putih botol yang sering kita jumpai ditiap kamar hotel.
Indirect Effects. Perubahan produksi yang dihasilkan dari pembelanjaan berbagai babak berikutnya dari penerimaan hotel kepada industri para pemasoknya, yaitu pemasok barang dan jasa kepada hotel. Misalnya, perubahan penjualan, lapangan kerja dan penghasilan dalam industri linen (sprei, selimut, bed-cover, handuk, taplak dsb.) adalah salah satu dari efek tidak langsung (indirect effect) dari perubahan penjualan hotel. Usaha-usaha pemasok barang dan jasa kepada perusahaan linen merupakan babak lain dari efek tidak langsung, yang akhirnya tidak terlepas dari keterkaitan hotel dengan banyak sektor ekonomi lainnya di daerah itu sampai pada beberapa tingkat.
Dalam contoh sederhana dapat digambarkan seperti berikut:
Katakanlah suatu daerah berhasil menarik 100 tambahan wisatawan, masing-masing membelanjakan $100 per hari, sehingga total belanja mereka per hari di daerah itu adalah $10.000. Jika berlangsung selama 100 hari dalam satu musim liburan, maka daerah itu akan dapat mengakumulasi sejumlah $1.000.000 sebagai transaksi penjualan baru.
Dalam contoh sederhana dapat digambarkan seperti berikut:
Katakanlah suatu daerah berhasil menarik 100 tambahan wisatawan, masing-masing membelanjakan $100 per hari, sehingga total belanja mereka per hari di daerah itu adalah $10.000. Jika berlangsung selama 100 hari dalam satu musim liburan, maka daerah itu akan dapat mengakumulasi sejumlah $1.000.000 sebagai transaksi penjualan baru.
Lebih luas lagi, meningkatnya industri perhotelan yang berdampak pada industri furniture, juga akan meningkatkan industri kayu sebagaimana itu merupakan bahan mentah furniture, manifestasi ini merupakan kelanjutan dari Indirect effects tersebut.
Bisa dilihat betapa luasnya dampak yang dibawa oleh industri pariwisata, contoh Indirect effectyang saya tuliskan diatas itu baru pengaruh dari perhotelan ke industri furniture saja, belum lagi industri makanan serta berbagai industri-industri lainnya yang men-support kegiatan ekonomi diatas.
Dampak yang ketiga, Induced effects alias dampak induksi juga sangat luas pengaruhnya, namun telah berada pada tinggkat yang berbeda. Yang dimaksud dengan dampak induksi disini adalah dampak dari belanja rumah tangga mereka-meraka yang menerima keuntungan secara langsung maupun tidak dari pengeluaran wisatawan-wisatawan, simplenya uang gaji seorang pegawai hotel akan digunakan oleh dia untuk membeli makanan, membayar angkutan, membeli pulsa dll, hal tersebut sekali lagi akan merangsang peningkatan-peningkatan industri makanan, angkutan dan juga telekomunikasi.
Dampak total ekonomi pariwisata merupakan jumlah keseluruhan dampak yang terjadi baik langsung, tidak langsung maupun induksi, yang masing-masing dapat diukur sebagai keluaran bruto (gross output) atau penjualan (sales), penghasilan (income), penempatan tenaga kerja (employment) dan nilai tambah (value added).
Secara nyata, kegiatan pariwisata memberikan manfaat pada penjualan, keuntungan, lapangan kerja, pendapatan pajak dan penghasilan dalam suatu daerah.
Dampak yang paling dirasakan langsung, terjadi di dalam sub-sektor pariwisata primer, -penginapan, restoran, angkutan, hiburan dan perdagangan eceran (retail). Pada tingkat kedua, di sub-sektor sekundernya, berpengaruh pada sebagian besar sektor ekonomi.
Analisis dampak ekonomi kegiatan pariwisata lazimnya berfokus pada perubahan penjualan, penghasilan dan penempatan tenaga kerja di daerah bersangkutan yang terjadi akibat kegiatan pariwisata. Pada dasarnya analisis dampak ekonomi pariwisata menelusuri aliran uang dari belanja wisatawan, pertama-tama ke:
* Kalangan usaha dan badan-badan pemerintah selaku penerima pengeluaran wisatawan; kemudian ke:
* Bidang Usaha lainnya selaku pemasok (supplier) barang dan jasa kepada usaha pariwisata;
* Rumah Tangga selaku penerima penghasilan dari pekerjaan di bidang pariwisata dan industri penunjangnya;
* Pemerintah melalui berbagai pajak dan pungutan (resmi) dari wisatawan, usaha dan rumah tangga.
perkembangan nyata terjadi pada beberapa komponen, yaitu fasilitas transportasi, pembelanjaan, makan dan dokumentasi. Perkembangan lain yang sudah terencana dan mulai terealisasi adalah adanya program pembentukan kampung wisata di Kelurahan ini. Pengaruh langsung dari perkembangan komponen pariwisata tersebut adalah banyaknya wisatawan yang mau singgah dan berkunjung ke tempat wisata tersebut. Sehingga indikator lain yang digunakan dalam melihat perkembangan industripariwisata tersebut adalah dengan melihat jumlah wisatawan yang berkunjung di daerah tujuan wisata.
Secara nyata, kegiatan pariwisata memberikan manfaat pada penjualan, keuntungan, lapangan kerja, pendapatan pajak dan penghasilan dalam suatu daerah.
Dampak yang paling dirasakan langsung, terjadi di dalam sub-sektor pariwisata primer, -penginapan, restoran, angkutan, hiburan dan perdagangan eceran (retail). Pada tingkat kedua, di sub-sektor sekundernya, berpengaruh pada sebagian besar sektor ekonomi.
Analisis dampak ekonomi kegiatan pariwisata lazimnya berfokus pada perubahan penjualan, penghasilan dan penempatan tenaga kerja di daerah bersangkutan yang terjadi akibat kegiatan pariwisata. Pada dasarnya analisis dampak ekonomi pariwisata menelusuri aliran uang dari belanja wisatawan, pertama-tama ke:
* Kalangan usaha dan badan-badan pemerintah selaku penerima pengeluaran wisatawan; kemudian ke:
* Bidang Usaha lainnya selaku pemasok (supplier) barang dan jasa kepada usaha pariwisata;
* Rumah Tangga selaku penerima penghasilan dari pekerjaan di bidang pariwisata dan industri penunjangnya;
* Pemerintah melalui berbagai pajak dan pungutan (resmi) dari wisatawan, usaha dan rumah tangga.
perkembangan nyata terjadi pada beberapa komponen, yaitu fasilitas transportasi, pembelanjaan, makan dan dokumentasi. Perkembangan lain yang sudah terencana dan mulai terealisasi adalah adanya program pembentukan kampung wisata di Kelurahan ini. Pengaruh langsung dari perkembangan komponen pariwisata tersebut adalah banyaknya wisatawan yang mau singgah dan berkunjung ke tempat wisata tersebut. Sehingga indikator lain yang digunakan dalam melihat perkembangan industripariwisata tersebut adalah dengan melihat jumlah wisatawan yang berkunjung di daerah tujuan wisata.
1. Peranan Pemerintah dalam Ekonomi Pariwisata
Dalam dasawarsa terakhir ini banyak negara berkembang menaruh perhatian yang khusus terhadap industri pariwisata. Hal ini jelas kelihatan dengan banyaknya program pengembangan kepariwisataan di negara tersebut. Negara yang satu seolah-olah hendak melebihi negara yang lain untuk menarik kedatangan lebih banyak wisatawan, lebih banyak tinggal dan lebih banyak menghamburkan uangnya. Sayang bahwa banyak program kurang masak dipertimbangkan, khususnya mengenai keuntungan yang akan diperoleh apakah lebih besar daripada perusakan yang ditimbulkannya. Dalam hal mencari tempat-tempat rekreasi ada kecendrungan untuk menjadikan cahaya matahari dan laut untuk menjadi daya tarik wisata. Dengan cara demikian potensi yang dimiliki dapat dikembangkan sebagai aktivitas perekonomian dalam membangun kepariwisataan menjadi sesuatu yang mudah untuk dapat menghasilkan devisa yang sifatnya quick yielding.
Disamping itu kita mengetahui, bahwa bahan baku industri pariwisata tidak akan pernah habis-habis, sedangkan bahan baku industri lain terbatas. Untuk menggalakkan pembangunan perekonomian dengan suatu pertumbuhan yang berimbang kepariwisataan dapat diharapkan memegang peranan yang menentukan dan dapat dijadikan sebagai katalisator untuk mengembangkan pembangunan sektor-sektor lain secara bertahap. Seperti terjadi pada sektor lain, kebijakan pemerintah pada sektor pariwisata ada yang memberikan dampak langsung dan ada pula yang memberikan dampak tidak langsung. Selain dari hal diatas ada kemungkinan suatu kebijakan ekonomi pemerintah memberikan dampak langsung pada sektor lain tetapi dapat memberikan dampak tidak langsung bagi sektor pariwisata. Tujuan pokok dari kebijakan ekonomi pemerintah terhadap pariwisata adalah untuk memaksimalkan kontribusi pariwisata terhadap ekonomi nasional. Tujuan kontribusi ini termasuk :
(a) Optimalisasi kontribusi dalam neraca pembayaran
(b) Menyiapkan perkembangan ekonomi regional dan neraca pembayaran regional.
(c) Menyiapkan tenaga kerja
(d) Peningkatan dan pendistribusian pendapatan.
(e) Kontribusi terhadap kesejahteraan sosial
(f) Memaksimalkan peluang pendapatan fiscal
Di dalam pengembangan pariwisata harus merupakan pengembangan yang berencana secara menyeluruh , sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial dan cultural. Perencanaan tersebut harus mengintegrasikan pengembangan pariwisata kedalam suatu program pembangunan ekonomi, fisik, dan sosial dari suatu negara. Di samping itu, rencana tersebut harus mampu memberikan kerangka kerja kebijakan pemerintah, untuk mendorong dan mengendalikan pengembangan pariwisata. Peranan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata dalam garis besarnya adalah menyediakan infrastuktur (tidak hanya dalam bentuk fisik), memperluas berbagai bentuk fasilitas, kegiatan koordinasi antara aparatur pemerintah dengan pihak swasta, pengaturan dan promosi umum ke luar negeri. Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir diseluruh daerah Indonesia terdapat potensi pariwisata, maka yang perlu diperhatikan adalah sarana transportasi, keadaan infrasruktur dan sarana-sarana pariwisata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar